Tampilkan postingan dengan label love. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label love. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Agustus 2014

Only You -PART 1- EXO FF


Title: Only You
Cast:
  • Byun Baekhyun
  • Kim Jong Hee
  • Kim Joon Myeon
  • Kim Jong Dae
  • Kim Jong In
  • Oh Sehun
  • Park Chanyeol
  • Do Kyungsoo

PART 1—Something Happened to My Heart—
“No matter how much i call out, you’re always far from me.”—A&T


      ***

      “Ayolah Kim Jong Hee, cepat sedikit apa kau mau terlambat di hari pertamamu bekerja sebagai arsitek, huh?” Ujar seorang gadis sambil menatap bayangannya dalam cermin. Kedua tangannya masih sibuk memberikan sentuhan eyeliner di kedua kelopak matanya.
      “Yak Jong Hee-ya!!!!! Kau belum juga bersiap- siap sejak tadi???” Sebuah suara mengagetkan Jong Hee  sehingga membuat garis eyeliner yang susah payah ia tarik menjadi sedikit melenceng.
      “Kya!!!! Oppa! Lihat apa yang baru saja kau lakukan,” gadis itu membalikkan badan dan menunjuk eyeliner- nya yang sedikit belepotan. “Oppa mengagetkan ku saja, aku sedang berusaha cepat jadi tolong jangan menggangguku.” Gadis itu kembali sibuk dengan beberapa alat make up nya dan tidak mempedulikan kehadiran kakak laki- lakinya tersebut.
      “Hei Jong Hee- ya, kau mau terlambat di hari pertamamu bekerja? Kau bilang kau akan menjadi arsitek disiplin yang tepat waktu, tapi di hari pertamamu bekerja kau sudah terlambat, memalukan.” Ujar laki- laki tersebut.
      “Jong Dae- Oppa, bisakah oppa diam sebentar? Aku butuh konsentrasi!” Ujar Jong Hee  sambil mengoleskan kelopak matanya dengan eyeliner. Jong Dae hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah adik semata wayangnya itu.
      Diam- diam Jong Dae menatap adik perempuannya tersebut dengan hati berdesir. Adik yang selama ini ia jaga sudah tumbuh dewasa, hobinya sama seperti gadis lainnya, belanja, jalan- jalan dan berdandan. Semenjak kedua orang tua mereka meninggal dalam sebuah kecelakaan beruntun  Jong Dae memang harus berusaha ekstra dalam menjaga dan menopang adiknya tersebut. Tidak sesekali Jong Dae mendapati Jong Hee sedang terduduk diam di tepi jendela atau mendapati Jong Hee sedang memandangi foto kedua orang tua mereka.
      Beruntung karena mereka tidak seperti tokoh- tokoh di serial drama yang sudah yatim piatu miskin pula. Kedua orang tua Jong Dae mewariskan sebuah rumah sakit dan sebuah butik kepada anak- anaknya, dan Jong Dae pun menjadi kepala rumah sakit yang baru ketika kedua orang tuanya meninggal, padahal saat itu dirinya berusia 22 tahun dan baru saja meraih gelar dokter spesialis bedah jantung.
      Dan sekarang melihat Jong Hee akan bekerja Jong Dae sedikit sedih, ia akan berpisah dengan Jong Hee, mungkin saja intensitas pertemuan mereka akan sedikit berkurang. Ingin rasanya Jong Dae meminta adiknya tersebut agar tidak perlu bekerja, namun, hal itu akan membuat Jong Hee seolah- olah terkekang.
      “Oppa, kau kenapa?” Tiba- tiba suara Jong Hee yang sudah berada di hadapannya  membuyarkan segala lamunannya.
      “A.. anniyo, kau mau berangkat sekarang?”
      “Oppa akan mengantarku?” Ujar Jong Hee terkejut. Ia tadinya berpikir akan naik bus saja, karena Jong Dae belum mengizinkannya mengendarai mobil.
      “Tentu saja, ini hari pertamamu bekerja dan aku harus memastikan kau sampai di kantormu bukan di mall atau salon kecantikan.” Ujar Jong Dae sambil tertawa kecil melihat ekspresi Jong Hee.
      “Yee, arraseo! Jeongmal arraseo!” Ujar Jong Hee pura- pura kesal. Jong Dae mengusap pelan puncak kepala Jong Hee dengan sayang dan gadis itu pun membalas perlakuan kakaknya tersebut dengan sebuah pelukan.
      “Gomawo oppa, terimakasih sudah menjadi kakak terbaik untukku.” Ujar Jong Hee sambil memeluk Jong Dae dengan erat.
      “Sama- sama Jong Hee-ya.”
      Tiba- tiba Jong Hee melepaskan pelukannya, “oppa kau benar- benar akan mengantarku kan? Bagaimana kalau sekarang? Karena sepertinya aku akan terlambat.” Ujar  Jong Hee  sambil mendahului Jong Dae.
      “Yak! Kau yang tadi berlama- lama dengan eyeliner- mu!” Teriak Jong Dae.

      ***

      Baekhyun sedang sibuk menatap layar komputernya sambil mendengarkan musik dari laptop- nya ketika Sehun datang membawa dua gelas bubble tea dengan muka masam.
      “Hey, kenapa ekspresimu seperti itu? Kau tidak suka aku menyuruhmu membeli bubble tea?” Ujar Baekhyun sambil meyeruput bubble tea yang diberikan oleh Sehun.
      “Bukan begitu hyung, hyung tau aku baru saja mendengar bahwa Min Seok hyung akan pindah ke luar negeri.” Ujar Sehun.
      “Lalu?” Tanya Baekhyun sambil tetap berkonsentrasi kepada layar komputer di hadapannya.
      “Hyung bilang ‘lalu’??? Hyung, Min Seok hyung belum merampungkan seluruh gambar potongan untuk proyek hotel milik Daehan Group!” Ujar Sehun sambil menatap Baekhyun dengan tatapan paling mengenaskan.
      Baekhyun masih bergeming menatap layar komputer. Sehun yang penasaran dengan apa yang dikerjakan Baekhyun segera berdiri mengitari meja dan berdiri di belakang Baekhyun, seketika matanya terbelalak.
      “Hyung sedang menggambar potongan???”
      “Ya, seperti yang kau lihat. Min Seok hyung sudah memberitahukan kepindahannya sejak lama, jadi beritamu itu basi Sehun- nie.”
      “Hyung daebak!!!” Teriak Sehun. Ia benar- benar salut terhadap senior yang berada di hadapannya saat ini, Baekhyun tipe orang yang serius dan pekerja keras meskipun di luarnya ia sangat dingin dan cuek. Namun, di hadapan ia dan anggota EOA –Nama tim yang sengaja Baekhyun buat agar terdengar lebih keren— Baekhyun sangat baik dan keras  kepala tentu saja.
      “Jong In dan Chanyeol ada dimana?”
      “Chanyeol hyung sedang di pantry, sementara Jong In sedang sibuk menggambar tampak. Deadline membuat Jong In lupa waktu dan lupa diri hyung.” Ujar Sehun sambil tertawa. Di antara anggota EOA Sehun memang yang paling dekat dengan Baekhyun. Cerita selengkapnya nanti saja.
      “Dan kau, apa yang sedang kau lakukan Sehun?” Tanya Baekhyun.
      “Melihat hyung hehehe, aku sedang membuat gambar denah untuk lantai 12 sampai lantai 20 dan aku sudah menyelesaikan lima gambar.” Ujar Sehun.
      “Kalau begitu lanjutkan lagi, dua minggu lagi kita berempat sudah harus berkumpul untuk menyatukan semua pekerjaan kita. Arraseo?”
      “Yee, hyung,”
      Tiba- tiba tanpa mengetuk pintu Jong In menerobos masuk ke dalam ruangan Baekhyun yang didominasi warna coklat tersebut.
      “Yak! Kenapa kau tidak mengetuk pintu terlebih dahulu?” Ujar Baekhyun yang masih terkejut dengan kedatangan Jong In.
      “Mianhae hyung, aku hanya ingin memberi tahu Joon Myeon hyung menyuruh kita ber- empat segera ke ruangannya.”
      “Hey  Baekhyun, Joon Myeon hyung menyuruh kita ke ruangannya.” Kali ini Chanyeol yang masuk sambil menggenggam sebatang coklat di tangannya.
      “Ada apa kita dipanggil seperti ini hyung?” Ujar Jong In sambil menatap Baekhyun.
      “Apa akan ada perombakan pemain seelah kita ditinggalkan oleh Min Seok hyung?” Tanya Sehun.
      Tanpa menjawab pertanyaan dari Jong In, Baekhyun segera berdiri dan beranjak dari bangkunya, lalu seperti dikomando Sehun, Chanyeol dan Jong In pun mengikuti Baekhyun.

      ***

      Jong Hee menarik nafasnya ketika ia sudah memasuki lift, setelah ia menekan tombol angka 3 ia pun menyandarkan badannya, berusaha rileks. Jujur saja ia masih kebingungan mencari ruangan Kim Joon Myeon pimpinan kantornya sekarang, menurut arahan resepsionis tadi ia hanya harus lurus belok kanan lalu ada tangga melingkar, naik ke lantai dua, lurus lalu ada lift, naik lantai tiga lalu lurus lagi kemudian belok kiri dan ruangan Joon Myeon sunbaenim berada di paling ujung lantai tersebut. Jong Hee sedikit kesal karena si resepionis membuatnya jadi bertele- tele.
      “Hyung menurutmu apa yang yang akan dikatakan Joon Myeon hyung  kepada kita?” Tanya Jong In. Baekhyun tidak menjawab, namun langkah cepatnya seolah memberikan sebuah pertanda kepada yang lainnya bahwa ada sesuatu yang tidak menyenangkan nantinya.
      “Baekhyun bisa kah kau berjalan lebih pelan, aku kelelahan mengikutimu secepat ini!” Protes Chanyeol yang lagi- lagi diabaikan oleh Baekhyun.
      Baekhyun masih saja menatap lurus ke depan. Ia cukup mengerti dengan yang dimaksud Joon Myeon, perombakan pemain tentu saja, ia masih ingat jelas tentang keputusan joon Myeon dua hari yang lalu bahwa ia akan menambahkan seorang lagi di tim- nya. Bukannya Baekhyun tidak mau tapi ia tidak yakin jika ‘orang itu’ yang akan menjadi anggota satu tim- nya, Baekhyun sungguh tidak sudi.

      ***

      TING!!!

      Pintu lift pun terbuka menandakan bahwa Jong Hee sudah berada di lantai tiga, dan tanpa pikir panjang Jong Hee segera berlari dari lift, namun, baru saja ia keluar dari lift tubuhnya tiba- tiba menghantam sebuah eh bukan sebuah, ada empat buah benda yang cukup keras sehingga membuat ia dan ‘benda’ itu jatuh bersamaan.
      “YAK!!!! Kenapa kau menabrak kami?!?!?!” Chanyeol yang lebih dulu bersuara sambil merintih kesakitan lantaran lengan kanannya kena sebuah hantaman keras.
      “A....Joesonghabnida sunbaenim.” Ujar Jong Hee yang langsung berdiri sambil menundukkan kepalanya. Satu kesalahan besar sudah ia lakukan di hari pertamanya bekerja, dalam hati ia menyesali perbuatannya yang langsung berlari ketika pintu lift terbuka.
      “Kau seharusnya bisa berjalan dengan santai ketika keluar dari lift agasshi,” sindir Jong In. Jong Hee tetap menundukkan kepalanya tidak berani menatap keempat laki- laki yang berada di hadapannya.
      Baekhyun yang sedari tadi sudah cukup badmood segera bersuara. “Angkat kepalamu.” Ujar Baekhyun dengan suaranya yang sedingin es. Jong Hee  masih belum berani mengangkat kepalanya. “Ku bilang angkat kepalamu.”
      Perlahan Jong Hee  mengangkat kepalanya, dan alangkah terkejutnya Baekhyun saat melihat wajah itu, wajah yang sudah berusaha ia hilangkan selama 6 tahun ini. Wajah yang saat ini sangat ia benci dan ia rindukan.
      Jong Hee juga terkejut mendapati keberadaan Baekhyun di hadapannya. Sosok yang selama 6 tahun ini sangat ia rindukan. Ia betul- betul tidak menyangka bertemu Baekhyun di sini. Mungkin kah ini takdir?
      “Kau dikejar sesuatu? Apa ada hantu di dalam lift itu sehingga kau harus berlari?” Ucapan Baekhyun yang cukup dingin terhadapnya cukup membuat Jong Hee terkejut. Ada apa dengan Baekhyun?
      “A... ani, a... aku hanya takut terlambat ini hari pertamaku bekerja.”
      “Oh, pegawai baru ternyata.” Ujar Chanyeol tak kalah dinginnya dengan Baekhyun.
      “Cepat pergi, atau kami akan melaporkanmu kepada pimpinan kami.” Ujar Bakehyun lalu beranjak meninggalkan Jong Hee yang masih tidak percaya dengan penglihatannya.
      “Baekhyun...” Ujar Jong Hee dengan suara pelan. Nyaris tak terdengar.

      ***

      Baekhyun menatap Joon Myeon yang masih sibuk dengan berbicara di telepon. Sementara Jong In, Chanyeol juga Sehun masih harap- harap cemas dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
      “Dia sudah datang, aku akan langsung mengenalkannya kepada kalian.” Ujar Joon Myeon.
      “Mwo??? Mengenalkan siapa hyung?” Tanya Chanyeol terkejut.
      “Anggota baru di tim kalian, Baekhyun belum menceritakannya pada kalian?” Tanya Joon Myeon. Sementara Chanyeol dan yang lainnya hanya menatap Baekhyun meminta penjelasan.
      Chanyeol hendak menjawab ketika sebuah suara ketukan berhasil membungkam mulutnya.
      “Ahhh, dia sudah datang,” ujar Joon Myeon sambil menatap Baekhyun dan kawan- kawan. “Masuklah!!!!” Ujar Joon Myeon dengan agak keras agar seseorang yang berada di luar ruangannya dapat mendengar suaranya.
      Dan ketika pintu terbuka, semua orang yang berada di dalam ruangan seakan menahan nafasnya dan tidak berusaha mengalihkan pandangannya dari pintu yang terbuka tersebut.
      “KAU!!!” Teriak Sehun tiba- tiba.
      Ekspresi terkejut juga ditunjukkan oleh Chanyeol dan Jong In. Berbeda dengan ketiga sahabatnya Baekhyun hanya menatap sosok di hadapannya itu dengan dingin dan malas.
      “Jong Hee silahkan masuk, kami sudah lama menunggumu.” Ujar Joon Myeon.
      “Lebih tepatnya Joon Myeon hyung yang sudah lama menunggumu, bukan kami.” Ujar  Jong In yang mendapat tatapan tajam dari Joon Myeon.
      “Jong In, hentikan mulut kasarmu itu.” Tegur Baekhyun. Jong In yang pada dasarnya segan dengan Baekhyun pun akhirnya memilih diam dan mengalihkan pandangannya ke arah jendela besar yang ada di ruangan Joon Myeon.
      Joon Myeon menatap keempat laki- laki yang berada di hadapannya ini dengan tatapan tajam.
      “Kalian sudah bertemu dengan Jong Hee sebelumnya?” Tanya Joon Myeon.
      “Belum,” jawab Baekhyun dengan datar.
      “Lalu kenapa Sehun berteriak ‘KAU’ kepada Jong Hee?” Ujar Joon Myeon sambil menatap Sehun. Sementara Sehun yang ditatap berusaha mengalihkan pandangannya ke arah lain.
      “Perlukah kami menjawab pertanyaan mu hyung? Bagaimana jika kau langsung mengenalkannya kepada kami dengan cepat sehingga kami bisa melanjutkan pekerjaan kami.” Ujar Baekhyun tanpa mengubah ekspresi wajahnya.
      Joon Myeon menarik nafasnya sebelum akhirnya  memilih untuk  mengalah, dan  langsung mengenalkan Jong Hee.
      “Baiklah, untuk kalian semua. Seperti yang kalian ketahui Min Seok sudah memutuskan untuk pindah dari perusahaan kita karena suatu hal, dan karena tim kalian kemungkinan akan kekurangan seseorang, aku memutuskan untuk memasukkan Jong Hee  ke dalam tim kalian.”
      “APA?!?!?!?!?!” Teriak Sehun, Jong In dan Chanyeol secara bersamaan. Sementara Baekhyun hanya diam seribu bahasa dan tampak tidak berniat menanggapi.
      “Hyung apa- apaan ini? Dia masih pegawai baru kenapa langsung dimasukkan ke tim kami?” Sebuah kalimat protes muncul dari mulut Sehun.
      “Memangnya kenapa? Dia lulusan terbaik tahun ini dari universitasnya.” Jawab Joon Myeon.
      “Aigooo, aku masih ingat saat hyung menempatkanku magang di gudang perlengkapan maket dan miniatur sebelum akhirnya kau menempatkan ku satu tim dengan Baekhyun hyung.” Ujar Jong In.
      Joon Myeon menarik nafas panjang, “apapun pendapat kalian Jong Hee akan masuk ke dalam tim kalian. Jadi bersikap baiklah. Arraseo?”
      Tidak ada jawaban dari Baekhyun dan kawan- kawan.
      “Baekhyun kuharap kau bisa mengatur semua anggotamu. Kalau begitu kalian boleh keluar, dan Sehun...”
      “Ya hyung?”
      “Tunjukkan meja kerjanya Jong Hee, kau tahu kan meja kerja Min Seok yang dulu?”
      “Ye..” Jawab Sehun dengan malas lalu memberi isyarat kepada Joong Hee  untuk mengikutinya.
      Dan akhirnya tanpa banyak biacara lagi Baekhyun, chanyeol dan Sehun segera meninggalkan ruangan Joon Myeon.

      ***

      “Kyungsoo hyung, tolong tunjukkan pada gadis ini meja kerja Min seok hyung yang dulu.” Ujar Sehun ketika melihat laki- laki yang sedang membuat hot chocolate di pantry.
      Laki- laki yang dipanggil Kyungsoo itu segera mengalihkan pandangannya kepada gadis yang berada di hadapannya sekarang.”
      “Apa dia pegawai baru?” Tanya Kyungsoo yang langsung dijawab dengan sebuah anggukan oleh Sehun.
      “Baiklah, nanti aku antarkan.” Ujar Kyungsoo dan tanpa berbicara banyak Sehun langsung meninggalkan Kyungsoo dan Jong Hee.
      “Annyeong haseyo, je ireumeun Jong Hee  imnida.” Ujar Jong Hee sambil membungkukkan badannya.
      “Ne,  annyeong haseyo, aku Do Kyungsoo panggil saja Kyungsoo oppa, karena kelihatannya kau lebih muda dariku.” Ujar Kyungsoo. “Kau mau hot chocolate?”
      “N... Nde???”
      “Tidak usah terkejut seperti itu anggap saja sebagai penyambutanku.” Ujar Kyungsoo sambil memamerkan deretan giigi putihnya.
      “A.... Gamsahabnida sunbaenim,” ujar Jong Hee.
      “Aisshh sudah kukatakan panggil saja Kyungsoo oppa! Arraseo?”
      “Ye arraseo oppa!”

      ***

      “Mwo??? Jadi kau langsung dimasukkan Joon Myeon hyung ke tim- nya Baekhyun?”
      Jong Hee hanya mengangguk kecil menanggapi pertanyaan Kyungsoo. Saat ini mereka sudah berada di meja masing- masing yang ternyata bersebelahan.
      “Daebak... Bagaimana bisa kau langsung dimasukkan ke dalam EOA? Katakan kau punya hubungan apa dengan Joon Myeon hyung?”
      “A... Aniyo aku tidak mengerti maksud oppa apa, aku sama sekali tidak punya hubungan apa- apa. Joon Myeon hyung hanya teman oppa ku saja.”
      “Pantas saja, apa oppa mu seorang arsitek juga?”
      Jong Hee menggeleng, “bukan, oppa ku seorang dokter, bagian bedah jantung.”
      Kyungsoo hanya mengangguk menanggapi jawaban Jong Hee.
      “Oh iya, Oppa apa maksudmu dengan EOA tadi?” Tanya Jong Hee.
      “Hah, ohh... kau belum tahu ya, EOA itu  Evil of Architecture. Aneh kan kedengarannya? Tapi itu adalah nama yang diberikan Baekhyun untuk tim kalian. Karena biasanya Baekhyun dan yang lainnya tidak hanya bersama- sama ketika di kantor saja, mereka juga sering jalan- jalan bersama ya bisa dikatakan mereka rekan kerja, sahabat dan saudara juga.” Ujar Kyungsoo sambil tertawa. “Banyak yang kagum dengan keahlian mereka berlima sebelum Min Seok hyung keluar sekarang dan digantikan oleh kau.”
      Kyungsoo meneguk mocha late- nya sebelum melanjutkan perkataannya. “Baekhyun dengan desainnya yang selalu daebak, Chanyeol yang meskipun kelihatan konyol ternyata  pandai menghitung beban, Jong In yang kelihatannya berantakan ternyata selalu rapi dan presisi dalam membuat miniatur dan  Sehun luar biasa dalam mendesain interior.”
      “Banyak sekali orang- orang di kantor ini yang ingin dimasukkan ke dalam tim  mereka, apalagi tidak diragukan lagi mereka tampan dan terkenal. Ditambah lagi Baekhyun masih merupakan sepupunya Joon Myeon hyung pimpinan kita. Kau beruntung bisa bergabung dengan mereka.” Ujar Kyungsoo.
      “Tapi mereka membenciku oppa, apalagi Baekhyun sunbaenim.” Ujar Jong Hee  dengan sedih.
      “Wae???”
      Jong Hee hanya terdiam sambil mengaduk hot chocolate- nya.

      ***

       Baekhyun menatap komputernya dengan malas. Ia betul- betul tidak menyangka akan bertemu dengan gadis itu sekarang, di kantornya dan lebih parahnya lagi ia akan satu tim dengan gadis itu.
      “Hyung, bagaimana mungkin gadis itu langsung dimasukkan ke dalam tim kita?” Ujar Jong In yang masih kecewa dengan keputusan Joon Myeon.
      “Hyung kau sudah tahu lebih dulu tapi mengapa tidak memberitahu kami?” Tanya Sehun.
      Baekhyun terdiam mendengar pertanyaan dari Sehun.
      “Jika seandainya kau memberitahu kami tentang hal ini, kita bisa bersama- sama menentang kehadiran gadis itu di tim kita.” Ujar Chanyeol.
      “Joon Myeon akan memindahkan kalian ke tim lain jika aku menolaknya.” Jawab Baekhyun.
      “Mwo???? Joon Myeong hyung berkata seperti itu?” Ujar Jong In.
      “Kenapa Joon Myeon hyung seperti itu, egois sekali.” Tambah Sehun.
      “Kim Jong Dae, kakak laki- laki gadis itu merupakan sahabat karib Joon Myeon hyung.” Jawab Baekhyun.
      Untuk beberapa saat ruangan Baekhyun menjadi hening, masing- masing sibuk dengan pikirannya.
      “Lalu apa kau yakin ingin memasukkan gadis itu ke dalam proyek hotel Daehan grup?” Tanya Chanyeol.
      “Tidak, untuk proyek Daehan grup dia tidak perlu bergabung. Untuk proyek berikutnya saja dia kita masukkan dalam tim.” Jawab Baekhyun sambil kembali menyibukkan dirinya dengan komputer dan kursor yang berada di tangannya.

      ***

      “Baekhyun- ahh kau kenapa????” Jong Hee berusaha menahan lengan Baekhyun. Sikap Baekhyun belakangan ini membuat ia tidak bisa tenang.
      “Jong Hee kumohon lepaskan tangannmu sekarang!” Ujar Baekhyun dengan datar.
      “Anni, jawab pertanyaanku atau kau tidak akan kulepaskan.” Jawab Jong Hee terdengar seperti menantang Baekhyun.
      Dengan sekali sentakan Baekhyun melepaskan cekalan Jong Hee pada lengannya dan membuat gadis itu terjatuh di lantai.
      “Jangan pernah mendekatiku lagi Jong Hee.” Ujar Baekhyun sebelum akhirnya ia melangkahkan kakinya menjauh meninggalkan Jong Hee yang mulai menangis.
            “Saranghaeyo Baekhyun, jeongmal saranghaeyo.” Ujar Jong Hee dalam tangisnya.


            ***

            “Jong Hee- ya, Hei Jong Hee- ya...” Ujar Kyungsoo berusaha membangunkan Jong Hee dari tidurnya.
            “Oh... Oppa, kau belum pulang?”
            “Aissshh kau tidur sangat lelap sekali, hei yak!... kau menangis??? Kau mimpi buruk???” Tanya Kyungsoo.
            “Be.. benarkah???” Jong Hee mengusap kedua pipinya yang ternyata memang basah.
            “Aigoo, kau pasti tertekan dengan sikap Baekhyun dan kawan- kawannya, sudah jangan terlalu dipikirkan, lama- lama kau bisa stress sendiri. Ayo pulang sudah jam sembilan malam. Kajja!” Ajak Kyungsoo.
            Dengan segera Jong Hee membereskan barang- barangnya lalu mengikuti Kyungsoo. Yang sedang asyik melahap semangkuk kecil es krim di tangannya.
            “Besok datanglah jam tujuh aku akan mengajakmu sarapan di kedai bibi belakang, masakannya enak sekali.” Ujar Kyungsoo dengan antusias.
            “Ye..” Jawab Jong Hee dengan sebuah senyuman.
            Ketika sampai di depan pintu masuk lobi kantor Jong Hee dan Kyungsoo berpisah karena Jong Hee masih akan menunggu Jong Dae.
            “Kalau begitu, aku pergi duluan. Jaga dirimu.” Pamit Kyungsoo.
            “Ye, oppa...”
            Sepeninggal Kyungsoo Jong Hee segera mengambil smartphone lalu mengirimkan pesan kepada Jong Dae, dan sambil menunggu Jong Dae, ia memutuskan untuk  memainkan game yang ada di smartphone- nya.
            “Baekhyun hyung, bagaimana kalau malam ini kita ke Champion club, Hyerim ingin mengenalkan teman- temannya kepada kita.” Ujar sebuah suara.
            Jong Hee membalikkan badannya dan mendapati Baekhyun serta sahabat- sahabatnya sedang berjalan menuju ke arahnya, dengan segera ia mengeluarkan earphone, menyambungkannya ke smartphone- nya lalu memasangkannya ke telinganya kemudian ber- akting seolah- olah sedang mendengarkan musik.
            “Hyung, bukankah itu gadis yang asal dimasukkan oleh Joon Myeon hyung?” Jong Hee cukup bisa mendengar suara itu.
            “Hmm, dia sepertinya sedang menunggu seseorang.” Kali ini sebuah suara berat menambahi. Dan saat ini Baekhyun dan sahabat- sahabatnya sudah berada di sampingnya walaupun jarak mereka tidak terlalu dekat.
            “Entahlah yang pasti aku tidak mau tahu.” Ujar sebuah suara yang amat sangat Jong Hee kenali.
            “Baekhyun hyung, kau kelihatan sangat membencinya, ada apa? Apa kau pernah kenal sebelumnya dengan gadis itu?”
            “Kau tidak perlu tahu Sehun, tapi yang pasti aku sangat membencinya.” Ujar Baekhyun dengan suara yang amat sangat menusuk di telinga Jong Hee yang dengan sekuat tenaga sedang berusaha menahan tangisnya.
            “Kau kejam sekali Baekhyun.” Ujar suara berat itu yang langsung disambut oleh tawa dari yang lain.
            Sambil tetap berpura- pura tidak mendengar perkataan Baekhyun, Jong Hee berjalan meninggalkan keempat laki- laki itu, dengan perasaan remuk. Baekhyun membencinya dengan alasan yang tidak pernah ia tahu. Baekhyun sepertinya tidak mau dan tidak akan pernah mengatakan kepadanya apa alasannya, karena sepertinya, tidak peduli sekuat apapun ia memanggil, sebanyak apapun ia memanggil, Baekhyun akan tetap menjauh darinya.


            ***

Senin, 24 September 2012

SUPER MODEL PART 2 ^CERBUNG CAIK^

“Stress banget berhadapan sama si duo NRG itu!!” Geram Oik ketika ia sudah berada di kamar Ify. Ify yang sedang membaca majalah sedari tadi pun mengalihkan pandangannya kepada Oik.
            “Memangnya kenapa Ik???” Tanya Ify. Oik segera mendekat kepada Ify.
            Oik pun menceritakan kronologis pertengkaran kecil antara Elang dan Cakka yang membuat dirinya merasa dikacangin oleh dua bersaudara yang sudah mengontraknya itu.
            “Aneh! Jadi kerjaan lo apa??” Ujar Ify. Oik menghela nafasnya sebelum berkata.
            “Kita bakal ke Pantai Parai Tenggiri lusa, pemotretan buat iklan gitu, dan lo harus ikut.” Ujar Oik. Ify hanya manggut- manggut.
            “Berapa hari kita di sana?” Tanya Ify lagi.
            “Seminggu tiga hari, dan Cakka menolak banget tentang itu.” Jawab Oik.
            “Yes, I know! Tapi, kayaknya bakal seru juga nantinya, kerja sambil liburan. Wowowowoww! Elang baik banget ya.” Ujar Ify, Oik hanya memutar bola matanya melihat tingkah sahabatnya ini.
            “Okey, deh gue mau cuci muka dulu ya...” Ujar Oik lalu beranjak ke kamar mandi meninggalkan Ify yang masih sibuk dengan khayalannya.
            ***
            “Cepetan Kka!!! Oik udah nunggu di bandara,” seru Elang dari ruang makan, sementara Cakka masih sibuk mempersiapkan barang bawaannya.
            “Sabar bro!!!!” balas Cakka. Elang hanya bisa menarik nafas panjang melihat tingkah adik satu- satunya ini yang memang terkesan lelet dan bertele- tele. Hari ini mereka akan bertolak ke Bangka belitung sesuai dengan rencana mereka sebelumnya, pada akhirnya Cakka pun memutuskan untuk mengikuti perkataan Elang, seminggu tiga hari di pantai parai tenggiri dan membatalkan janji liburannya dengan Nadya.
            Setelah beberapa menit menunggu Cakka pun datang dengan sebuah koper besar dan kamera DSLR tergantung di lehernya.
            “Udah beresnya semuanya???” Tanya Elang.
            “Udah, sekarang pamitan lo sama nyokap, gue tadi udah,” Ujar Cakka lalu beranjak meninggalkan Elang.
            ***
            “Mereka kemana sih, Ik??? Seriusan kan mau ke Belitung???” Entah sudah yang keberapa kalinya pertanyaan itu dilontarkan oleh Ify sejak sejam yang lalu.
            “Sabar Fy, mungkin jalanan macet jadi  mereka agak telat datangnya.” Ujar oik dengan santai, ia masih sibuk dengan aktivitasnya yaitu berdandan.
            Ify kembali menatap jam tangan coklat yang melingkar manis ditangannya, ia cukup gelisah karena keterlambatan kakak beradik rekan kerja mereka itu. “Gue bakal pulang kalo 10 menit lagi mereka ga datang!”  Oik hanya bergidik ngeri mendengar perkataan Ify.
            Tiba- tiba dari kejauhan Elang dan Cakka terlihat sedang berlari- lari menuju mereka. Cakka tampak kewalahan membawa kopernya. Oik yang melihat pemandangan itu pada akhirnya tidak mampu menahan tawanya.
            “Ha... Haiii!!! Hhhh.. udahh... lama nunggunya???” Tanya Elang yang masih sibuk mengatur nafasnya.
            “Lumayan sih... kru yang lain sampai bosan nungguin kalian!” Ujar Oik sambil memoleskan lipstick ke bibirnya yang sensual itu, melihat pemandangan itu, Cakka terkesiap dan terpaku sejenak, jantungnya serasa dipompa lebih kencang. Sesaaat pandangannya tidak beralih dari Oik.
            “Oke Kka, urusan check in gue serahin ke elo!” Ujar Elang membuyarkan lamunan Cakka. Dengan segera Elang menyerahkan selembar kertas dan langsung diterima oleh Cakka.
            “Asal yang kayak gini nih, gue kena apesnya!” Ujar Cakka lalu melengos pergi ke customer service. Sementara Elang hanya terkekeh.
            “Cakka bakal sama kita seminggu tiga hari full bareng kita atau ngga???” Tanya Oik.
            “Cakka bakal full bareng kita di sana, gue menang setelah berdebat panjang sama dia semalam.” Ujar Elang. Oik hanya menggelengkan kepalanya. Tak lama kemudian Cakka pun datang sambil bertelepon, mungkin dengan Nadya.
            “Dari siapa Kka??” Tanya Elang ketika melihat Cakka sudah menyimpan handphone- nya ke dalam saku celananya.
            “Dari Nadya, dia kecewa banget gue ngebatalin rencana jalan- jalan gue sama dia.” Ujar Cakka dengan raut wajah sedih. Elang langsung menepuk pundak Cakka.
            “Ga usah sedih bro! Kita bakal Have fun disana...” ujarnya.
            Cakka hanya menghela nafas panjang, entah mengapa melihat raut wajah Cakka yang seperti itu, hati Oik terasa ngilu, ikut merasakan kesedihan Cakka. Ia menatap lama wajah tampan Cakka yang sedang tertunduk sedih.
            “Em.. ehem, aku rasa lebih baik Cakka tiga hari aja disana, kasihan Nadya nantinya.” Tukas Oik. Cakka mendongakkan kepalanya dan menatap Oik dengan tatapan paling  innoncent sedunia. Oik hanya mengernyitkan dahinya.
            “Thanks tapi, itu ga dibutuhkan lagi semua udah batal,” Ujar Cakka dengan lemas.   Oik hendak menanggapi perkataan Cakka namun, suara yang berasal dari pengeras suara yang menggema di ruang tunggu memaksa mereka untuk segera naik ke pesawat.
            Di dalam pesawat pun Oik terus menerus memandangi Cakka yang sedari tadi hanya melamun, menatap lurus ke bawah tanpa memperhatikan yang disekitarnya.
            “Lhhaaa??? Gue kok jadi mikirin Cakka sih??? Arrrgghh... itu urusan dia sama cewenya kok jadi lo yang stress sih, Ik???” geramnya dalam hati. Akhirnya ia pun memilih untuk memperhatikan pramugari yang sedari tadi sedang memberikan pengarahan kepada para penumpang.
            ***
            Oik segera meletakkan kopernya disudut dekat lemari pakaian yang terdapat di kamar itu. Begitu juga dengan Ify dan Sivia. Mereka sudah sampai di cottege sekitar 2 jam yang lalu. Setelah meletakkan koper masing- masing, Sivia dan Ify memilih untuk tidur, sedangkan Oik memilih untuk berjalan- jalan menyusuri pantai.
            Pantai Parai Tenggiri, memang indah, pasirnya yang putih, serta warna airnya yang bening masih sangat terjaga. Siapapun pasti akan selalu ingin kembali ke tempat ini. Oik tersenyum melihat betapa indahnya pantai tempat ia berpijak sekarang, sambil sesekali membidik pemandangan yang indah itu dengan kamera ponselnya. Tiba- tiba matanya terantuk pada seorang laki- laki yang juga sedang sibuk membidik pemandangan pantai ini sama seperti dirinya, dan nampaknya ia tahu siapa lelaki itu.
            “Gue ngga nyangka ternyata lo tuh seorang model! Bahkan bisa dibilang super model.” Ujar Cakka -Laki- laki- itu tanpa mengalihkan pandangannya dari bidikannya. Oik mendengus kesal tadinya, ia berharap bisa menjalin kerjasama yang baik dengan laki- laki yang akan menjadi fotografernya ini, tapi kelihatannya Cakka belum bersedia bekerjasama dengannya.
            “Ohya??? Gue juga ngga nyangka cowo yang membentak- bentak gue ternyata adalah orang yang bakal jadi fotografer gue Wawww... Sesuatu banget yahhh” Balas Oik dengan sengit. Cakka menatap Oik dengan tajam. Begitu juga dengan Oik.
            “Gue ngga tau apa kita bisa bekerjasama dengan baik atau engga, tapi gue harap selama kita jadi partner lo bisa bersikap lebih baik ke gue!” Oik cukup terkejut mendengar perkataan Cakka, ia agak tersinggung dengan perkataan Cakka
            “Waww, bersikap baik ke elo??? Memangnya lo udah bersikap baik gitu ke gue??? Hellow, dengan lo ngomong kayak gini aja, lo udah GA BERSIKAP BAIK sama gue!!!” Balas Oik tak kalah pedasnya, dan sebelum Cakka hendak protes dan membalas perkataannya Oik pun segera meninggalkan Cakka yang sudah sangat kesal dengan sikapnya.
            “Tuh cewe memang rese banget!” geram Cakka.
            ***
            Sore ini pemadangan di Pantai Parai Tenggiri sangat indah, deburan ombaknya, warna oranye yang terlukis di langit serta burung camar yang berterbangan di atas laut bersatu padu menjadi sebuah lukisan alam yang sangat menakjubkan. Ify sedang bersantai di teras cottege sambil memandangi karya alam yang disajikan Sang Pencipta. Tiba- tiba matanya terantuk pada siluet laki- laki yang sedang  berjalan di pinggiran pantai, Ify sedikit menyipitkan matanya dan ia pun tersenyum ketika mengetahui siapa laki- laki tersebut.
            Ify segera melangkahkan kakinya menuju laki- laki tersebut, bermaksud menemui laki- laki itu.
            “Hai Elang,” sapa Ify kepada laki- laki tersebut yang ternyata adalah Elang.
            “Hai juga Fy, jalan- jalan juga?” Tanya Elang sambil memamerkan senyum manisnya. Sesaat hati Ify berdesir melihat senyum Elang.
            “Begitulah, bosan di cottege.” Jawab Ify. Mereka pun menyusuri pinggiran pantai bersama- sama. Keheningan pun meliputi mereka berdua.
            “Mmm... Kapan sesi pemotretannya dimulai???” Tanya Ify memecahkan keheningan.
            “Besok kita mulai sesi pemotretan yang pertama, aku harap  Oik beristirahat cukup malam ini.” Ify menganggukkan kepalanya menanggapi perkataan Elang.
            “Yapps... Aku pastikan Oik istirahat cukup malam ini, biar dia bisa fresh besok,” tambah Ify.
***
            Terlihat beberapa kru sedang berlalu- lalang di atas hamparan pasir putih pantai tersebut. Hari ini sepertinya akan dimulai sesi pemotretan yang pertama. Semua sibuk dengan pekerjaan masing- masing. Ada yang mengangkat peralatan, memasang arus listrik untuk lampu pencahayaan, Cakka sendiri sedang sibuk mengutak- atik kameranya. Sementara di sudut lain Oik masih dimake- up.
            “Pagi Ik..” sapa Sivia yang baru saja tiba di lokasi pemotretan. Oik menyunggingkan senyumnya ketika mendapati sahabatnya.
            “Pagi juga Via, lo kok baru nyampe sih??? Ify mana???”  tanya Oik.
            “dia masih di kamar lagi beres- beres! Oh iya gue kenalan sama cowo lho, tadi..” Ujar Sivia dengan wajah yang berseri- seri.
            “Ohyaa?? Siapa???” Tanya Oik.
            “Namanya Gabrel biasa dipanggil Iel, manis lho dianya!”
            Oik hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya yang satu ini. Sivia sedang jatuh cinta dan Oik sangat paham dengan keadaan sahabatnya itu.
            “Ik, pemotretan udah mau dimulai kok lo masih aja ngegosip sama Via sih!!!” Seru Ify ketika baru saja tiba di tempat Oik.
            “Sabar Fy, dia masih dimake- up tuh!” Sivia mengedikkan bahunya menunjuk Oik.
            “Ya udah makanya buruan, nanti Elang marah baru tahu rasa!” tukas Ify. Ia pun memilih untuk duduk dan membaca majalah fashion yang tergeletak diatas sebuah meja.
            Beberapa menit kemudian Oik pun sudah selesai didandan, mereka pun segera menuju lokasi pemotretan. Tiba-  tiba entah mengapa semua menjadi hening, mereka seperti terhipnotis ketika melihat Oik berjalan menuju mereka. Kru- kru, Elang bahkan Cakka tidak kuasa melepaskan pandangan mereka dari Oik.
            Ify dan Sivia tertawa kecil melihat ekspresi orang- orang yang berada disekitar lokasi pemotretan tersebut. Sementara Oik sendiri kelihatan tidak peduli dengan orang- orang yang berada disekitarnya ia asyik dengan pikirannya sendiri.
            “Kka.. Maksud lo cewe rese yang hampir nabrak lo itu, dia???” Tanya Ray tanpa melepaskan pandangannya dari Oik. Cakka tidak menggubris pertanyaan Ray. Ia masih betah melihat Oik yang saat itu sedang mengenakan gaun pantai berwarna putih ala dewi bintari. Rambut panjangnya tergerai indah dan serta merta ditiup lembut oleh angin semakin menambah pesona yang terpancar dari diri Oik.
            “Eheemmm, aku rasa pemotretannya udah bisa dimulai deh Lang,” ujar Ify sambil menepuk pelan pundak Elang. Elang langsung tersadar dari keterpesonaan(?) nya lalu segera memberi aba- aba kepada para kru. Cakka sendiri langsung menemui Oik yang sepertinya sedang merapikan rambutnya.
            “Gue harap untuk kali ini lo bisa lupain permasalahan kita.” Ujar Cakka dengan tegas. Oik menatap cakka dengan pandangan yang sulit diartikan.
            “Lucu banget sih lo! Dari kemarin lo kayaknya niat banget ya, mengungkit- ungkit masalah itu,” jawab Oik. Cakka mencengkram lengan Oik dengan kasar dan hal itu membuat Oik sedikit terkejut melihat perlakuan Cakka.
            “Hei, gue sama sekali nggak ada niat buat mengungkit masalah kita, gue cuma pengen kita bisa bekerjasama dengan baik, itu saja!” Oik mulai ketakutan melihat ekspresi Cakka pada saat itu. Dengan kasar dan sekali sentakan Oik melepaskan lengannya dari cengkraman Cakka dengan kasar pula.
            Setelah keadaan sedikit lebih baik, tapi masih tetap saja berseteru. Cakka memberi pengarahan kepada Oik, mereka berusaha bersikap profesional.
            “Nah, oke deh kita mulai sesi pemotretannya yaa,” gantian Cakka sekarang yang memberi aba- aba kepada para kru.
            “Oke Oik, seperti yang aku bilang tadi senyum kamu harus lebar yaa...” Ujar Cakka. Oik menganggukkan kepalanya dan mulai menarik sudut bibirnya membentuk sebuah busur berupa senyuman. Cakka tampak puas melihat senyum Oik itu, dan....
            “1.... 2..... 3.... ” suara kamera Cakka pun mulai terdengar beberapa kali dan Oik pun sepertinya mulai sibuk mengatur pose nya sesuai dengan petunjuk dari Cakka sebelumnya.
            Tak terasa sesi pemotretan yang pertama sudah dirampungkan selama kurang lebih 1 jam dan besok adalah jadwal syuting iklannya, Oik berjalan menemui Ify dan Sivia yang sedang duduk- duduk dibawah payung pantai sambil menikmati panasnya matahari.
            “Gilaaaaa!!!! Gue capek Fy!! Can you bring me a softdrink???” Ujar Oik. Tetapi, belum sempat Ify mengambilkannya, sebuah tangan sudah terulur dihadapan wajah Oik sambil menggenggam sekaleng munuman bersoda. Oik segera mengalihkan pandangannya kepada si empunya tangan tersebut dan dia adalah.....
            “Ca.. Cakka???”
            “Yaa,its me! Kenapa???” Tanya Cakka yang heran melihat ekspresi wajah Oik. Oik mengernyitkan dahinya, ia sedang berpikir apa maksud dari tindakan Cakka kali ini. “Ngomong- ngomong nih, ambil dong minuman yang ada ditangan gue, ini buat lo! Gue tahu elo pasti kehausan makanya gue bawain,” tambah Cakka lagi, kali ini Oik menerimanya dengan sebuah senyuman tulus.
            “Thanks ya Kka,”
            “Yuppp, sama- sama! Oke deh gue mau nyamperin mas El dulu ya,” Pamit Cakka lalu meninggalkan Oik.
            “Kok, dia jadi baik gitu sih???” Gumam Oik dengan pelan.
            ***
            “Besok, jadwal syutingnya, malam ini lo harus lebih banyak jam tidurnya, jangan sampai mata lo besok jadi berkantung, paham???” Ujar Ify dengan tegas. Oik hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari majalah fashion yang ada ditangannya.
            Sesaat kemudian, Ify pun meninggalkan Oik, dan gantianlah Sivia yang datang menemui Oik.
            “Si Ify ngomong apa sama lo???” Tanya Sivia lalu segera duduk di samping Oik.
            “Dia bilang, gue harus banyak istirahat soalnya besok syuting iklan! Aduuhh, suer deh Vi, gue capek banget! Pengen refreshing!!!” gerutu Oik sambil  melemparkan majalah yang ada ditangannya ke lantai. Sivia cukup kaget dengan reaksi Oik.
            “Yaa, tapi ini kan sudah jadi resiko dari pekerjaan lo,Ik. Sabar aja lagi,” Oik menghela nafas panjang.
            “Gue mau keluar cari udara segar. Lo mau ikut nggak???” Tanya Oik dan hendak beranjak pergi.
            “Aduh, Ik... Kalo ketahuan Ify bisa gawat kita!!!” Sivia berusaha mencegah Oik. Tetapi, kelihatannya Oik bersikeras ingin keluar malam ini. Dan apa daya Sivia? Ia hanya bisa menghela nafas panjang dan membiarkan Oik memenuhi keinginannya.
            Kemudian Oik pun mengambil cardigannya yang tersampir di balik pintu kamarnya, lalu beranjak meninggalkan cottege.
            Jika boleh jujur, Oik sudah sangat ketakutan. Bayangkan berjalan sendiri di tepian pantai yang dekat dengan kafe- kafe malam dan dalam kegelapan tentu saja. Hanya lampu- lampu kafe lah penerang di sepanjang jalan itu.
            “Adduuhh, nyesel juga gue ga ngikutin sarannya Via...” Gumam Oik. Ia memeluk badannya sendiri yang sedari tadi sudah cukup merinding. Akhirnya ia pun memutuskan untuk kembali ke cottege. Namun, tiba- tiba sebuah tangan menariknya lalu membekapnya. Oik meronta berusaha melepaskan diri dari cengkraman si empunya tangan.
            Orang tersebut kemudian membawa Oik masuk ke dalam salah satu cottege, disaat itulah pikiran- pikiran buruk mulai berkelebat di benak Oik. Ia semakin ketakutan dan panik tentunya. Apalagi keadaan saat itu gelap total di luar maupun di dalam cottege. Oik pun merasa ada yang mendorongnya dan ia pun jatuh terhempas ke sebuah sofa yang ada di ruangan gelap tersebut.
            “Siapa lo?!?!?! Lo jangan coba macam- macam sama gue yaa!!!! Kalo elo macam- macam gue bakal teriak. Tidak ada jawaban dari orang tersebut, sedangkan Oik tidak bisa melihat siapa sosok tersebut karena ruangannya sangat gelap.
            “Woooii, ada orang nggak sih????” Seru Oik dengan suara yang mulai bergetar. Oik pun mulai mendengar suara langkah kaki mulai mendekatinya, Oik semakin takut.
            “Sayang banget ya, gue ga bisa melihat ekspresi lo malam ini,” bisik orang tersebut, sejenak Oik terperanjat ketika mendengar suara orang tersebut.
            “Gue tahu lo siapa!!!” Seru Oik tiba- tiba, secara samar orang tersebut tersenyum kecil.
            “Ohyaa??? Lo bisa bilang ke gue, siapa gue???” tantang orang tersebut.
            “CAKKA NURAGA!!!!!!” teriak Oik, sampai orang yang ternyata Cakka tersebut menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya.
            “Bisa nggak lo, nggak teriak- teriak???? Sakit nih telinga gue dengerinnya!” Seru Cakka. Oik yang betul- betul marah dan merasa dirinya telah dikerjai akhirnya memilih untuk bangkit dari sofa lalu mendorong Cakka dengan keras hingga terjatuh di lantai.
            Oik segera melangkahkan kakinya di dalam ruangan yang gelap tersebut hendak mencari saklar lampu, namun, karena ruangannya memang gelap gulita ia tersandung tubuh Cakka dan terjatuh tepat diatas tubuh Cakka.
            Sejenak Oik bisa mencium aroma parfum Hugo Boss menari- nari didekat indra penciumannya, dan ia sedikit terbuai, begitu juga dengan Cakka, wangi shampoo yang berasal dari rambut Oik, bersatu padu dengan oksigen dan terhirup olehnya, lalu dialirkan melalui darah sehingga sadar tidak sadar membuat jantung Cakka terasa dipompa lebih cepat dari sebelumnya.
            Tiba- tiba Oik merasakan sesuatu yang lembab dan basah menyentuh sudut bibirnya, hal ini membuatnya cukup terkejut, lalu segera bangkit berdiri, diikuti juga dengan Cakka. Cakka pun segera berjalan menuju saklar lampu, dan sedetik kemudian ruangan tersebut menjadi terang.
            “Heeh!!! Maksud lo bawa gue kesini apa?? Lo mau memperkosa gue ya?!?!?!” Tanya Oik dengan tatapan tajam, Cakka tertawa kecil.
            “Tadinya gue mau bikin surprise buat elo, sebagai permintaan maaf gue soal masalah kita, dan sekaligus buat membangun relasi and chemistry antara kita sebagai partner kerja,” jawab Cakka dengan tenang. Oik jadi salah tingkah menyadari kesalahpahamannya.
            “Tapi, kayaknya lo nggak mau menerima permintaan maaf gue, jadi sorry karena udah membuat lo merasa terganggu dan--  ketakutan!” Cakka langsung tertawa keras begitu mengucapkan kata ‘ketakutan’. Oik semakin merasa malu dan langsung beranjak meninggalkan Cakka yang masih saja tertawa.
            Sesaat setelah kepergian Oik, Cakka terdiam ia mengusap halus bibirnya yang tadi sempat menyentuh sudut bibir Oik dengan jari kemudian mengecapnya.
            “Waawww, rasa strawberry nih kayaknya,” gumam Cakka.

            ***

Minggu, 26 Agustus 2012

SUPER MODEL ^CERBUNG CAIK^ Part 1

Kilatan blitz yang berasal dari kamera wartawan maupun fotografer  yang berada di sekitar catwalk itu, seakan- akan mengiringi langkah Oik di atas catwalk itu. Gaun pengantin yang ia kenakan pada saat itu semakin menunjang penampilannya yang cantik dan rupawan. Oik semakin percaya diri untuk memamerkan senyumnya yang manis dan menggoda itu. Semua orang yang berada di sekitar catwalk itu tidak berhenti memandangi Oik dengan kagum, beberapa menit setelah ia berlenggak- lenggok di atas catwalk itu, Oik segera berjalan ke balik panggung, dan muncullah model lain di atas catwalk tersebut.

            “Ini dia supermodel kita Oikkkkk!!!!!” Ujar seorang laki- laki kemayu setelah melihat Oik turun dari tangga yang menghubungkan ruangan itu dengan panggung. Oik hanya tersenyum malu.

            Semua orang yang melihat kedatangan Oik langsung memberinya applause meriah. Mereka yang ada di tempat itu langsung menyalami Oik dan memberinya pujian.

            “Kamu tahu Oik sejak kamu di atas catwalk tadi sudah ada 12 pemesan gaun itu...” Ujar laki- laki tadi. Oik hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Dan yang lain pun sibuk berkasak- kusuk tentang Oik.

            “Mmm.... boleh saya permisi ganti baju dulu???” Tanya Oik dengan sopan.

            “Ohh, silahkan... kalau kamu butuh sesuatu katakan pada Bobi asisten saya,” ujar laki- laki tersebut. Oik segera meninggalkan kerumunan orang- orang yang masih asyik membicarakan tentang dirinya.

            Sesampainya di ruang ganti ia sudah mendapati Ify managernya dan Sivia sahabatnya sedang duduk sambil memainkan blackberry- nya masing- masing. Oik segera menghempaskan tubuhnya di atas sofa yang diduduki Ify dan Sivia.

            “Ehhhhh, jangan disitu entar kalo gaunnya lecek, kusut terus rusak gimana??” Pekik Sivia, Oik memandang Sivia dengan perasaan kesal.

            “Tapi, gue udah capek Via...” Keluh Oik.

            “Iya gue  tahu.. tapi, sebaiknya lo ganti baju dulu baru boleh duduk, sekalian bersihin wajah lo,” perintah Sivia.

            Dengan langkah yang diseret Oik bangkit dari posisi duduknya dan segera menuju sebuah bilik yang biasa digunakan para model untuk ganti baju, setelahnya ia langsung ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya.

            Beberapa menit kemudian ia kembali ke tempat Ify dan Sivia tadi,

            “Lo tau ga,Ik... lo sukses besar malam ini,” ujar Ify sambil memberikan sebuah kuncir rambut pada Oik.

            “Sukses gimana???” tanya Oik sambil mengikat rambut panjangnya.

            “Pokoknya mas Kiki tadi bilang omset penjualan gaun rancangannya melejit gara- gara perform lo tadi, and you know, mas Kiki bahkan menghadiahkan lo satu iPad apple tuh ada di tas lo!” Tambah Ify lagi, Oik segera mengintip isi tasnya dan memang benar sudah ada sebuah iPad di dalamnya.

            “Bilang makasih sama mas Kiki,” ujar Oik, lalu mulai menyenderkan kepalanya di sandaran sofa dan perlahan mulai menutup matanya.

            “Oh, iya schedule lo besok, ketemu Elang Nuraga, pemimpin majalah  Glorian...” Ujar Ify. Oik hanya mengangguk lemah.

            “Lo berangkat bareng gue atau sendiri??”

            “Sendiri aja,” jawab Oik pelan dan perlahan ia mulai tertidur lelap.

            ***

            “Via, gue pergi dulu ya....” Ujar Oik setengah berteriak karena ia sudah berada di luar rumah. Ia kemudian menaiki SX4 nya dan mulai melesat menuju sebuah kafe tempat pertemuannya dengan Elang.

            Selama di perjalanan Oik menyetel Mp3 di mobilnya dengan keras, sambil sesekali menyanyikan lirik lagu yang diputarnya. Tanpa disadarinya ketika hendak melewati belokan    sebuah motor CBR berwarna yellow menyelip kasar di samping mobilnya, hal itu membuat Oik membanting setirnya bukan ke arah yang berlawanan dengan motor itu, malah ke arah dimana motor itu berada, sehingga motor itu terserempet dan jatuh.

             Pengendara motor itu langsung berdiri marah dan segera mengetuk kaca mobil Oik. Oik langsung keluar dari mobil dan betapa terpesonanya si pengendara motor itu yang ternyata laki- laki melihat sosok perempuan yang mengenakan gaun pink selutut dan rambut panjang ikalnya tergerai indah, namun, karena amarahnya sudah memuncak rasa terpesona itu perlahan hilang dan digantikan oleh rasa marah yang meluap- luap.

            “Mbak baru belajar nyetir ya???? Mbak punya mata apa ngga sih?? Saya ada dikanan kok mbak banting setir ke kanan juga sih?? Sengaja mau bikin saya mati????” Teriak laki- laki itu. Oik langsung menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya.

            “Mass!!!! Ngomongnya santai aja dong... ngga usah pakai acara teriak- teriak nanti gendang telinga saya bisa pecah dengar teriakan mas!!!” Balas Oik dengan suara yang lebih kencang. Laki- laki itu cukup terkejut dengan reaksi Oik.

            “Mbak, maaf nih ya kalo saya teriak- teriak, tapi kan mbak sudah salah, mbak hampir mencelakakan saya,” ujar laki- laki itu kini dengan suara yang lebih lembut.

            “Lahh, siapa suruh situ ngebut- ngebut terus nyelipin saya?? Udah gitu ngga bunyiin klakson lagi,” Ujar Oik dengan sengit. Laki- laki itu terdiam, memang benar yang dikatakan gadis yang ada dihadapannya ini, ia ngebut dan kemudian menyelip seenaknya tanpa memberikan tanda apapun. Tiba- tiba saja laki- laki itu jadi gelagapan dan salah tingkah menyadari beberapa kesalahannya tadi.

            “Hayo, masih tetap ngotot bilang saya yang salah?” Ujar Oik sedikit sinis.

            “Ng... ng.. sudah deh mbak, tapi tetap aja mbak juga salah, dimana- mana banting setir itu ke arah yang berlawanan eh, ini mbak malah banting setirnya ke arah saya,saya ngga terima juga dong!” Ujar laki- laki itu. “Gimana kalau saya tadi terlindas ban mobil mbak??”

            “Isssh, rese banget jadi orang, udah tahu salah masih mau nyalahin orang! Aduh udah ya mas, saya lagi buru- buru nih soalnya. Mas mau menuntut ganti rugi?” Ujar Oik lalu segera mengambil dompetnya di dalam dashboard mobilnya.

            Laki- laki itu mendadak kesal dengan perkataan Oik yang mengatakan soal ganti rugi. Padahal maksud laki- laki itu ingin berkenalan dengan Oik, tapi, tingkah Oik yang sedikit arogan itu membuatnya jadi kesal sendiri.

            “Mbak, saya ngga minta uang ganti rugi ya, mbak jangan sok deh jadi orang!” Ujar Laki- laki itu sambil menatap Oik tajam.

            Oik terperanjat mendengar perkataan laki- laki yang ada di hadapannya sekarang, ia bukannya bermaksud untuk sok. Oik menggeram kecil sambil menatap laki- laki yang ada di hadapannya ini dengan kesal. Kemudian ia masuk ke dalam mobilnya dan menjalankan mobilnya meninggalkan laki- laki aneh tersebut.

            “Cewe sombong!!!” Geram laki- laki itu. Tiba- tiba ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk.

            “Halo...” Sapa laki- laki itu.

            “Halo, lo dimana? Lama banget sampai disini??” Jawab suara di seberang. Laki- laki itu menggigit bibirnya, sebelum ia berkata.

            “Sorry, gue baru aja mengalami sedikit accident tadi, ini gue udah mau jalan lagi.” Ujar laki- laki itu sambil menaiki motornya dan mulai menyalakan mesinnya.

            “Tapi, lo ga kenapa- kenapakan??” Tanya suara yang di seberang dengan nada khawatir.

            “Yes, I’m fine! Lo tenang aja 15 menit lagi gue udah sampai kok,”

            “Oke gue tunggu ya!”

            Laki- laki itu pun mulai menjalankan motornya dan mencoba melupakan kejadian tadi.

            ***

            Oik akhirnya tiba di kafe tempat pertemuannya dengan Elang dengan langkah pasti ia melangkah memasuki kafe tersebut. Sesampainya di dalam kafe tersebut ia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kafe tersebut bermaksud mencari Elang. Merasa dirinya dicari Elang segera melambaikan tangannya ke arah Oik. Oik pun membalasnya dengan senyuman manisnya lalu segera menemui Elang.

            “Hei, udah lama menunggu?” Tanya Oik dengan ramah lalu menjabat tangan Elang.

            “Ngga, kira- kira satu jam lah,” jawab Elang sambil tertawa. Oik membalas perkataan Elang dengan raut wajah yang pura- pura kesal.

            “Oke, mau pesan apa?” Tanya Elang kemudian memanggil seorang waitress.

            “Mmm, kalau ada es krim aku pesan es krim aja.” Ujar Oik.

            Elang menatap Oik dengan pandangan takjub, “Ngga takut gemuk Ik?”

            “Gemuk??? Aku makan sebanyak apapun ngga akan bisa gemuk.” Ujar Oik sambil memainkan iPhone- nya. Elang tertawa kecil mendengar pernyataan Oik.

            “Rasa apa Ik?”

            “Strawberry, aku suka banget rasa itu.” Jawab Oik.

            Elang segera mencatat pesanannya dan pesanan Oik. Kemudian memberikan daftar pesanan itu kepada si waitress, dan setelah waitress itu pergi ia pun mulai membuka pembicaraan.

            “Aku dengar event kamu semalam sukses besar ya,” Ujar Elang sambil tersenyum.

            Oik tertawa kecil sebelum menanggapi perkataan Elang, “Biasa aja sih, setiap designer yang gaunnya aku pamerin dan gaun itu laku di atas 5 buah pasti bakalan bilang aku sukses besar.” Jawab Oik sedikit merendah. “Padahal belum sebanding sama model- model senior yang lain.” Tambah Oik. Elang hanya memanggut- manggutkan kepalanya.

            “Kamu udah baca kontrak yang aku kasih ke Ify kan?”

            “Yapsss,”

            “Jadi gimana? Bersedia kerjasama dengan majalah Glorian?” Tanya Elang yang kini mulai was- was dengan jawaban Oik pasalnya ia sadar betul Oik ini supermodel yang pastinya penuh dengan kontrak yang bernilai puluhan bahkan mungkin ratusan juta rupiah.

            “Muka kamu tegang banget, takut ya aku tolak kerjasama ini?” Ujar Oik sedikit bercanda. Elang hanya tertawa kecil.

            “Yaps, aku bersedia, aku suka penawaran yang kamu tulis di kontrak itu.” Ujar Oik.

            “Makasih banyak Ik, tapi kamu lagi ga terikat kontrak yang lain kan?”

            “Ngga, aku udah bebas mulai semalam,” Jawab Oik. Pesanan mereka pun akhirnya datang dan mereka pun mulai menyantapnya.

            “Oh iya, Ik nanti kamu bakal bekerja sama dengan adik saya, Cakka Nuraga dia wakil saya merangkap fotografer di kantor majalah saya.” Ujar Elang sambil menyantap lasagna pesanannya.

            Oik hanya menganggukkan kepalanya, sementara tangannya asyik menyendokkan sesendok demi sesendok es krim ke dalam mulutnya.

            “Cakka????” Panggil Elang ketika melihat Cakka sedang berlari menuju mejanya, Oik masih belum mendongakkan kepalanya, ia masih larut dalam kenikmatan es krim rasa strawberry yang ia pesan tadi.

            “Oik, ini adik aku, Cakka...” Ujar Elang memperkenalkan Cakka, Oik langsung berdiri dan berbalik badan, namun, alangkah terkejutnya ia ketika melihat sosok yang ada dihadapannya saat ini adalah orang yang menghancurkan mood- nya hari ini.

            “Lo!!!!” Ujar keduanya serempak.

            Elang menatap keduanya heran, “Kalian berdua sudah saling kenal??”

            “Ngga!!!” Ujar keduanya bersamaan lagi, dan kali ini mereka mulai menatap satu dengan yang lainnya dengan tatapan yang dapat menghujam jantung.

            “Lha... lhaa.. kok, suasananya jadi ngga enak begini sih???” Ujar Elang sambil menyuruh mereka berdua untuk duduk.

            “Ngga, ngga kita ngga ada apa- apa kok,” Ujar Cakka.

            Elang beralih menatap Oik, Oik tampak salah tingkah karena ia benar- benar tidak tahu harus menjawab apa. Kali ini Cakka bisa melihat gadis yang hampir saja menabraknya tadi dari dekat. Alis matanya yang tebal dan berbentuk, hidungnya yang lumayan mancung, matanya yang bening, dan bibir rosy- nya yang amat sensual itu mampu menghipnotis Cakka untuk beberapa menit. Sementara Oik yang sudah gugup memilih diam dan kembali menyantap es kirm yang ada dihadapannya.

            “Oke, lo mau pesan apa Kka?” Tanya Elang.

            “Ng.. ngga usah, mending langsung ngomongin apa kerjaan gue,” cakka menolak halus tawaran Elang.

            “It’s okay, kerjaan buat lo, adalah jadi fotografernya Oik sesuai dengan kontrak yang tertulis,” ujarnya dan sukses membuat keduanya kaget sekaget- kagetnya.

            “Jadi fotografer dia???” Ujar Cakka dengan suara yang tidak bisa dibilang pelan.

            Elang menganggukkan kepalanya mantap. Sementara Cakka hanya bisa menghela nafas.

            “Jadi fotografer cewe sok ini?? Mimpi apa gue semalem??” Gumam Cakka dalam hati.

            “Gue sih mau mau aja, tapi gue saranin lo tanya sama dia mau atau ngga kerjasama bareng gue” Ujar Cakka sambil meminum orange juice pesanan Elang.

            Oik menatap Cakka dengan tatapan yang tidak dapat diartikan. Cakka tidak mempedulikan tatapan Oik ia, memilih mengaduk- aduk Orange juice yang berada dalam genggamannya.

            “Gimana Ik, bersedia kerjasama dengan Cakka?? Kalau memang ngga sreg, aku bisa ganti fotografer,” ujar Elang. Oik kelihatan sedang berpikir. Sementara Elang menatap Oik dengan harap- harap cemas.

            “Gue bersedia kok,” ujar Oik sambil memamerkan senyumnya. Elang menghela nafas panjang.

            “Oke kalau gitu, untuk proyek ini, kita dapat tugas dari salah satu produk iklan yang, itemnya pengen kita promosiin jadi untuk pengambilan gambarnya aku memilih pantai parai tenggiri, Bangka Belitung sebagai lokasinya,” ujar Elang, Oik hanya manggut- manggut mendengarkan penjelasan dari Elang.

            “Jadi, kapan berangkat kesana dan siapa aja yang kesana??” Tanya Cakka.

            “Yang pastinya kita bertiga ditambah sama Ify dan Sivia, lo mau ngajak temen lo, boleh kok...” Ujar Elang.

            Cakka kelihatan berpikir, “Gue mau ngajak Ray sama Iel.”

            “Oke kita berangkat lusa, lebih cepat lebih baik kita bakal disana kira- kira seminggu 3 hari.”
            “WHAT???? Seminggu 3 hari???? Lo mau kerja atau liburan??? Lama banget!!!” Ujar Cakka dengan suara yang tidak bisa dibilang pelan.

            “Dua- duanya, setelah pemotretan dan semua kerjaan kita kelar, kita bakal liburan disana juga,” ujar Elang.

            “Gue ga bisa selama itu, gue rasa gue Cuma bisa 3 hari disana.” Tolak Cakka.

            Elang menggelengkan kepalanya dengan tegas. Dan mulailah perseteruan antara dua bersaudara tersebut. Oik hanya terdiam, ia memilih untuk mengeluar blackberry- nya kali ini, lalu mengupdate tweetnya.

            @OikRmdlani Streessssssssss :S

            Oik sangat emosi ketika mengupdate tweetnya ini, dan beberapa menit kemudian, sudah ada reply dari Ify managernya.

            @Ifyalyssa stresss kenapa lo?? @OikRmdlani

            Oik segera mereply kembali balasan dari Ify.

            @Ifyalyssa ini nih, si duo NRG pemilik majalah Glorian X_x

            Oik segera menyudahi aktivitasnya lalu kembali kepada dua bersaudara yang ada dihadapannya sekarang.

            “Ohhh, jadi lo lebih mentingin si Nadya- nadya lo itu daripada kerjaan lo????” Ujar Elang.

            “Gue ga bilang lebih mentingin dia daripada kerjaan gue, gue Cuma bilang gue bisa 3 hari aja disana, dan selesai itu gue ada rencana liburan bareng Nadya itu aja!” jawab Cakka dengan tegas.

            “Permisi, aku udah bisa pulangkan????” ujar Oik.

            “Belum!!!!!” Ujar Cakka dan Elang serentak. Oik cukup kaget dengan sikap dua bersaudara ini.
            “Oo... okey, tapi aku jangan dicuekin kayak gini dong!” Ujar Oik yang sedari tadi sudah kesal karena merasa dikacangin oleh Elang dan Cakka.

            “Sorry Ik, habis kesel banget sama si Cakka, dia selalu nomor satu- in cewe nya.” Ujar Elang. Cakka hanya mendecak kesal.

            “Up to you deh, pokoknya gue Cuma 3 hari aja bisa di bangka belitung,” Ujar Cakka dengan tegas. Oik hanya bisa menarik nafas panjang.

            “Oke, itu urusan kalian! Sekarang aku mau pulang, ada urusan sama Ify. Permisi..” Ujar Oik lalu segera beranjak meninggalkan Cakka dan Elang.

            “Gara- gara lo sih...” Ujar Elang.

            “Kok jadi gue?????”


            ***



Bersambung... ^^